PENILAIAN AFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
A.
PENDAHULUAN
Penilaian hasil belajar berdasarkan Kurikulum 2013
tidak hanya mencakup aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik
(keterampilan) saja, tetapi mencakup aspek afektif (sikap). Sebagian besar guru
masih mengalami kesulitan dalam menerapkan penilaian afektif yang berorientasi
pada kompetensi sikap antara lain sikap spiritual, disiplin, percaya diri,
tanggung jawab. Kesulitan guru dalam menerapkan penilaian afektif dikarenakan
penilaian yang dilakukan selama ini hanya bersifat numerik berdasarkan hasil
ujian peserta didik. Pencapaian kompentensi sikap diperlukan instrumen yang
disebut dengan instrumen nontes. Teknik-teknik nontes yang dapat digunakan
dalam penilaian afektif mata pelajaran matematika adalah observasi, penilaian
diri, dan penilaian antar teman.
B.
RUBRIK PENILAIAN AFEKTIF
Adapun aspek
yang dinilai:
Aspek
Afektif (berdasarkan Karthwohl) meliputi:
|
No
|
Kategori Afektif
|
Kata Kerja Operasional
|
|
1
|
Menerima (receiving)
|
Memilih,
mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, meminati, dll.
|
|
2
|
Menanggapi
(responding)
|
Menjawab, membantu, megajukan, mengkompromi, menyenangi, menyambut, mendukung, menyetujui,
menampilkan, melaporkan memilih, mengatakan,
menolak, dan lain-lain.
|
|
3
|
Menghargai
(valuing)
|
Bertukar pikiran,
mempertimbangkan, mengasumsi, meyakini, melengkapi, memperjelas, memprakasai,
mengimani, mengundang, menggabungkan, mengusulkan, menekankan, menyumbang,
dan lain-lain.
|
|
4
|
Mengatur
diri (organisation)
|
Menganut, mengubah, menata, mengklarifikasi, mengombinasikan,
memprtahankan, membangun, membentuk pendapat, memadukan, mengolah,
menegosiasi, merembuk, dan lain-lain.
|
|
5
|
Menjadikan
pola hidup (characterization)
|
Mengubah perilaku, berakhlak mulia, bekerjasama, mempengaruhi,
mendengarkan, mengkualifikasi, melayani, menunjukkan, membuktikan,
memecahkan, dan lain-lain.
|
C. Self Assessment dan Peer
Assessment Dalam Penilaian Afektif
Berdasarkan penelitian Muhammad Muslich, pada “Pengembangan Model Assessment Afektif
Berbasis Self Assessment dan Peer Assessment di SMA Negeri 1 Kebomas”, Model
penilaian self assessment dan peer assessment adalah model penilaian inovatif yang sedang
berkembang dalam dunia pendidikan pada saat ini, pada model penilaian ini dapat
memberikan dampak positif terhadap perkembangan kepribadian peserta didik.
Keuntungan dari penggunaan penilaian self assessment dan peer assessment
di kelas antara lain dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik,
karena mereka diberi kepercayaan untuk mengevaluasi dan menilai dirinya
sendiri, peserta didik menyadari kelebihan dan kelemahan dirinya, karena ketika
mereka melakukan penilaian harus melakukan introspeksi terhadap kelebihan dan
kelemahan yang dimilikinya dan dapat mendorong, membiasakan, dan melatih
peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk objektif dalam
melakukan penilaian.
Penilaian
self assessment dan peer assessment cocok diterapkan pada pembelajaran
yang berpusat pada siswa, menurut Willey & Gardner (2007) dari hasil
penelitiannya menyimpulkan bahwa penilaian diri dan teman sejawat berpengaruh
positif terhadap hasil belajar siswa, yaitu dapat meningkatkan hasil belajar
dan meningkatkan hasrat mereka untuk belajar. Dalam penelitian lainnya Willey
& Gardner (2008) juga menyebutkan bahwa penilaian diri dan teman sejawat
menjadi fasilitas mereka dalam menerima umpan balik yang menguntungan dari
teman kelompok mereka, sebagai faktor penentu keberhasilan dalam belajar
kelompok mereka. Penilaian self assessment dan peer assessment juga
dapat mendorong siswa untuk mandiri dan meningkatkan motivasi mereka. Penilaian
diri dapat digunakan untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk
memeriksa dan berpikir kritis mengenai proses pembelajaran yang mereka jalani.
D.
PERTANYAAN
Penilaian
diri dapat
digunakan untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan siswa untuk memeriksa dan
berpikir kritis mengenai proses pembelajaran yang mereka jalani. Dalam self
assessment siswa harus jujur melakukan
introspeksi terhadap kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya. Nah, apabila penilaian afektif self
assessment yang dilakukan siswa ternyata dalam kategori rendah, bagaimana guru menilai siswa
tersebut? Apakah diberi nilai sesuai kejujuran siswa atas instropeksi yang
dilakukannya (dengan skor rendah) atau
ada penilaian/pertimbangan lain yang dilakukakan oleh guru atas apresiasi siswa
karena siswa telah mencerminkan sikap jujur bahwa sikap yang dimilikinya masih
dalam kategori rendah?



menurut saya penilaian diri yang dilakukan oleh siswa itu sendiri adalah bentuk penilaian afektif, krna siswa berusaha dengan jujur untuk menilai diri mereka sendiri dengan jujur. dan kejujuran merupakan penilaian afektif. jika penilaian diri mereka termasuk dalam kategori rendah, guru mempunyai dan menjalankan penilaian autentik yang melihat semua aspek penilaian terhadap siswa. jadi walupun siswa dalam penilaian diri menilai diri mereka sendiri dengan nilai yang rendah, namun kia mempunyai penilaian fortopolio sendiri terhadap masing masing siswa. jadi penilain guru sendiri sebagai bahan pertimbangan buat siswa tersebut
BalasHapusPenilaian afektif itu kan banyak point2nya, jika self assesment siswa rwndah dan menilai diri sendiri rendah tentu seorang guru punya point lain dalam penilaian afektif siswanya, karna selama proses pembelajaran guru melakukan proses pendekatan dan pengenalan karakter siswanya, sehingga sudah tau penilaian afektif yg sesuai untuk siswa tersebut
BalasHapusJika self assesment siswa rendah kemungkinan karena rasa percaya diri yang juga rendah, tentu sebagai guru juga harus mengambil nilai dari aspek lain karena setiap siswa mempunyai kelebihan masing-masing dan guru harus tau itu, sehingga guru dapat memberikan nilai yang sesuai
BalasHapus