PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


Penilaian dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah identik dengan penilaian tes tertulis. Penilaian tes tertulis merupakan tes utama yang banyak digunakan oleh guru baik dalam bentuk tes pilihan maupun uraian. Tes tertulis banyak digunakan karena karena cenderung mudah untuk menilai siswa, namun penilaian hanya dengan tes tertulis memiliki banyak kelemahan. Kelemahan tes tertulis antara lain tidak dapat menggambarkan kompetensi siswa secara utuh, yaitu cenderung hanya pada segi pengetahuan sedangkan pada segi keterampilan dan sikap tidak dapat terukur. Padahal penilaian berguna untuk mengetahui status siswa dengan memperhatikan berbagai aspek, yaitu berupa kemampuannya pada aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem penilaian yang dapat mengukur setiap aspek kompetensi siswa. Wiggins (1990, p.2) memaparkan adanya keterbatasan dalam menilai semua kompetensi siswa apabila hanya menggunakan tes tertulis, maka hal tersebut menjadi alasan munculnya sistem penilaian baru yang dapat menilai kompetensi siswa tidak hanya pada ranah pengetahuan namun juga keterampilan dan sikap yaitu penilaian autentik.
Penilaian autentik merupakan suatu bentuk penilaian yang mensyaratkan siswa untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya dan dapat menunjukkan penerapan dari keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya (Mueller, 2006, p.2). Hal yang senada diungkapkan oleh Guilkers et al. (2004, p.69), “Authentic assessment is an assessment requiring students to use the same competenceies, or combinations of knowledge, skills and attitudes, that they need to apply in their criterion situation in professional life” yang dapat diartikan bahwa penilaian autentik merupakan penilaian yang menuntut siswa untuk menggunakan kompetensinya baik segi pengetahuan, keterampilan dan sikap secara terpisah maupun kombinasi ketiganya, yang dibutuhkan dalam aplikasi kehidupan nyata atau dunia kerja.
Menurut Kunandar (2014, p.36) berpendapat bahwa autentik merupakan keadaan yang sebenarnya yaitu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa, sedangkan berdasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 104 tahun 2014 mengenai Pedoman Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik, penilaian autentik diartikan sebagai bentuk penilaian yang menghendaki siswa menampilkan sikap, menggunakan pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh dari pembelajaran dalam melakukan tugas pada situasi yang sesungguhnya.
Penilaian erat kaiatannya dengan hasil belajar sebagaimana yang diungkapkan Cumming & Maxwell (1999, p.178), penilaian autentik tidaklah bermakna tanpa memperhatikan hasil berlajarnya. Menurut Kunandar (2014, p.36), hasil penilaian autentik dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remidial), pengayaan (enrichment) maupun pelayanan konseling, selain itu hasil penilaian autentik juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran (assessment for learning). Oleh karena itu penilaian autentik tidak hanya dapat berfungsi sebagai penilaian sumatif namun sebagai penilaian formatif (Johnson et al., 2010, p.32).
Menurut Wijayanti & Mundilarto (2015, p.130) menyatakan bahwa informasi hasil tes formatif dapat berfungsi sebagai umpan balik (feedback) baik bagi pendidik maupun siswa, sehingga hasil penilaian harus segera diberikan agar siswa dapat mengetahui hasil kinerjanya dan bagi pendidik dapat digunakan untuk memantau proses pembelajaran, kemajuan belajar dan prestasi belajar siswa.
Implementasi dari asesmen autentik harus mengikuti prinsip-prinsip:
(1)   Asesmen merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran,
(2)   Asesmen harus mencerminkan masalah dunia nyata,
(3)   Asesmen harus menggunakan berbagai ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar,
(4)   Asesmen meliputi semua aspek dari tujuan pembelajaran, baik kognitif, afektif maupun sensori motorik.
Asesmen autentik meliputi asesmen kinerja, proyek, produk, evaluasi diri, esai dan fortofolio yang diterapkan dalam pembelajaran memiliki beberapa fungsi.
1.             Asesmen kinerja
Asesmen kinerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Asesmen ini tepat dilakukan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik menunjukkan kinerjanya. Pemantauan didasarkan pada kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut. Asesmen kinerja adalah penelusuran produk dalam proses. Artinya, hasil-hasil kerja yang ditunjukkan dalam proses pelaksanaan program itu digunakan sebagai basis untuk dilakukan suatu pemantauan mengenai perkembangan dari satu pencapaian program tersebut.

2.             Proyek
Proyek merupakan tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Karena dalam pelaksanaannya proyek bersumber pada data primer/sekunder, evaluasi hasil, dan kerjasama dengan pihak lain, proyek merupakan suatu sarana yang penting untuk menilai kemampuan umum dalam semua bidang. Proyek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan peserta didik pada pembelajaran tertentu, kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan peserta didik untuk mengomunikasikan informasi.
3.             Produk atau hasil kerja
Produk atau hasil kerja adalah penilaian terhadap kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, pahatan), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam. Cara ini tidak hanya melihat hasil akhirnya saja tetapi juga dari proses pembuatannya, contoh: kemampuan peserta didik menggunakan berbagai teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, membakar kue dengan hasil baik, bercita rasa enak, dan penampilan menarik.

4.             Esai
Esai menghendaki peserta didik untuk mengorganisasikan, merumuskan, dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti peserta didik tidak memilih jawaban, akan tetapi memberikan jawaban dengan kata-katanya sendiri secara bebas. Tes esai dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu tes esai jawaban terbuka (extended-response) dan jawaban terbatas (restrictedresponse) dan hal ini tergantung pada kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengorganisasikan atau menyusun ide-idenya dan menuliskan jawabannya. Pada tes esai bentuk jawaban terbuka atau jawaban luas, peserta didik mendemonstrasikan kecakapannya untuk: (1) menyebutkan pengetahuan faktual, (2) menilai pengetahuan faktualnya, (3) menyusun ide-idenya, dan (4) mengemukakan idenya secara logis dan koheren. Sedangkan pada tes esai jawaban terbatas atau terstruktur, peserta didik lebih dibatasi pada bentuk dan ruang lingkup jawabannya, karena secara khusus dinyatakan konteks jawaban yang harus diberikan oleh peserta didik. Esai terbuka/tak terstruktur merupakan bentuk asesmen autentik.

5.             Asesmen portofolio
Asesmen portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada berbagai informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didiknya, hasil tes(bukan nilai), piagam penghargaan atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Asesmen portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik.
6.             Asesmen diri
Asesmen diri adalah penilaian yang meminta peserta didik menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajari berdasarkan kreteria yang telah ditetapkan. Tujuan utama dari asesmen diri adalah untuk mendukung atau memperbaiki proses dan hasil belajar. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan nilai. Jenis Asesmen Diri : 1(1) Asesmen langsung dan spesifik yaitu penilaian secara langsung pada saat atau setelah selesai melakukan tugas, untuk menilai aspek-aspek tertentu pada mata pelajaran,(2) (2) Asesmen tidak langsung dan holistik yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang , untuk memberikan penilaian secara keseluruhan, 3) Asesmen sosioafektif yaitu penilaian terhadap unsur-unsur afektif atau emosional, misal :  peserta didik diminta membuat tulisan yang membuat curahan perasaan.

Dapat di simpulkan bahwa “dari berbagai cara dalam penilaian auntetik, maka guru perlu memperhatikan cara belajar, prestasi belajar dan motivasi belajar. penilaian auntetik berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika dan motivasi berprestasi peserta didik. Implementasi asesmen autentik dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan prestasi belajar matematika dan motivasi peserta didik”.
Pertanyaan :
Menurut teman-teman perlukan Penilaian auntetik  suatu Implementasi asesmen autentik dalam pembelajaran matematika untuk mengukur pengaruh prestasi belajar dan motivasi siswa dalam meningkatkan prestasi? dan perlukah siswa mengerjakan soal dengan komposisi lebih banyak dibandingkan latihan disekolah (seperti pemberian PR yang banyak) ?apakah berpengaruh terhadap penilaian auntentik? 

Komentar

  1. Menurut saya penilaian autentik sangat diperlukan, selain untuk mengukur kemampuan yg sebenarnya dari siswa juga sebagai alat pendidik siswa agar terbiasa mengerjakan sesuatu secara rinci step by step. Siswa menjadi terbiasa mendapat nilai itu tidak secara instan tetapi dengan usaha, nah usaha itulah yg dinilai. Jika siswa diberikan PR yg banyak menurut saya kurang tepat, banyaknya PR tidak menjamin siswa kita menjadi pintar justru mereka akan terbebani. PR diperlukan untuk mengingatkan siswa akan materi, tetapi bukan membebani. Berikanlah PR secukupnya saja. PR yg banyak bukan berarti penilaian autentiknya jadi terjamin baik. Sekali lagi, autentik itu adalah penilaian proses.

    BalasHapus
  2. pemberian PR yang banyak menurut saya kurang tepat, karena itu akan menjadi beban bagi siswa sehingga ujung-ujungnya siswa akan malas untuk mengerjakan sendiri, lebih baik memberikan sedikit tapi rutin sehingga siswa tidak merasa terbebani. penilaian autentik itu kan proses jadi lebih baik dilakukan penilaian autentik ketikA proses mengajar

    BalasHapus
  3. menurut saya, dalam pemberian PR disekolah sebaiknya harus disesuaikan dengan beban pikiran dan karakteristik siswa dlam sekolah dan kelas itu, sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari

    BalasHapus
  4. Penilaian Autentik bertujuan untuk mengetahui kemampuan sebenarnya dari siswa, jika siswa kemampuannya rendah maka perlu diberikan PR. Tapi, PR yang diberikan bukanlah materi selanjutnya atau materi yang belum dipelajari dan tidak memberikan terlalu banyak PR. Tujuan memberikan PR untuk siswa terus melatih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer