PROSES KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
PROSES
KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
“Teori Kognitif Jean Peaget dan Z.P Dienes
serta Penerapannya dalam Pembelajaran Matematika”
A.
Pengertian
Kognitif
Secara umum kognitif diartikan
potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis),
sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti
persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional
(akal).
Kognitif lebih menekankan
bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang
dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif lebih menekankan pada aspek
kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespon terhadap
stimulus yang datang kepada dirinya.
B.
Perkembangan
Kognitif Jean Peaget
Teori perkembangan kognitif
Piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi
dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya,
mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek . Piaget memandang bahwa
anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas.
Anak tidak pasif menerima informasi. Walaupun proses berfikir dalam konsepsi
anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalaman dengan dunia
sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan informasi
yang ia peroleh melalui pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada
pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya.
1.
Tiga hal penting dalam Teori Kognitif Jean Peaget:
q Struktur
Piaget memandang ada
hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan
logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-operasi dan
operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur
q Isi
Merupakan pola perilaku
anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai
masalah atau situasi yang dihadapinya
q Fungsi
Adalah cara yang digunakan
organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan
intelektual didasarkan pada fungsi yaitu organisasi dan adaptasi
2.
Konsep
Teori Kognitif Jean Pieget
v Intelegensi
v Organisasi
v Skema
v Asimilasi
v Akomodasi
v Ekuilibrasi
3.
Tahap
Perkembangan Menurut Jean Peaget
3.1
Tahap
sensorimotor : umur 0 – 2 tahun.
(Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya
melalui gerak dan inderanya
serta mempelajari permanensi obyek).
Tahap paling awal perkembangan
kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap
ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget. Pada tahap sensorimotor,
intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap
lingkungannya (seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau), gagasan
mengenai benda sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang
juga belum terakomodasi dengan baik, struktur ruang dan waktu belum jelas dan
masih terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.
a)
Periode
1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)
Periode paling awal tahap
sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir sampai
sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi bersifat refleks,
spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan. Tindakan seorang bayi
didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara refleks.
b)
Periode
2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)
Pada periode perkembangan ini,
bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan pertama. Kebiasaan dibuat dengan
mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan. Pada periode ini, seorang
bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya, koordinasi tindakan bayi mulai
berkembang dengan penggunaan mata dan telinga, mulai mengikuti benda yang
bergerak dengan matanya, menggerakkan kepala ke sumber suara yang ia dengar.
Suara dan penglihatan bekerja bersama.
c)
Periode
3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
Pada periode ini, seorang tingkah
laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya
sendiri, menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya. Ia mencoba
menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi
sirkuler sekunder).
d)
Periode
4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi
mulai mempunyai kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah
diperoleh untuk mencapai tujuan tertentu, membentuk konsep tentang tetapnya
(permanensi) suatu benda.
e)
Periode
5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)
Unsur pokok pada periode ini
adalah mulainya anak mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan
cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak
dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai mencoba-coba dengan Trial
and Error untuk menemukan cara yang baru guna memecahkan persoalan tersebut
atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan skema yang baru, anak lebih
mengamati benda-benda di sekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di
sekitarnya bertingkah laku dalam situasi yang baru, tingkah anak ini menjadi
intelegensi sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang
baru, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap.
f)
Periode
Refresentasi (umur 18 – 24 bulan)
Periode ini adalah periode
terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak sudah mulai berfikir
melalui perbuatan (gerak), perkembangan fisik yang dapat diamati adalah
gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara, belajar mengkoordinasi
akal dan geraknya, cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak
logis.
3.2
Tahap
Pra operasional :
umur 2 -7 tahun.
(Ciri
pokok perkembangannya adalah penggunaan symbol/bahasa
tanda dan konsep intuitif)
Ø Perbedaan tahap ini
dengan tahap sebelumnya adalah “kemampuan anak mempergunakan simbol”.
Penggunaan simbol bagi anak pada tahap ini tampak dalam lima gejala berikut:
Ø Imitasi tidak langsung
Ø Permainan Simbolis
Ø Menggambar
Ø Gambaran Mental
Ø Bahasa Ucapan
3.3
Tahap
operasi kongkret :
umur 7 – 11/12 tahun.
(Ciri
pokok perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang
kejadian-kejadian konkret)
Tahap operasi konkret (concrete
operations) dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan
pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah memperkembangkan
operasi-oprasi logis. Operasi itu bersifat reversible, artinya dapat dimengerti
dalam dua arah, yaitu suatu pemikiran yang dapat dikembalikan kepada awalnya
lagi. Tahap opersi konkret dapat ditandai dengan adanya sistem operasi
berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/konkret.
Ciri-ciri operasi konkret
yang lain, yaitu:
a)
Adaptasi
dengan gambaran yang menyeluruh
b)
Melihat
dari berbagai macam segi
c)
Seriasi
d)
Klasifikasi
e)
Bilangan
f)
Ruang,
waktu, dan kecepatan
g)
Probabilitas
h)
Penalaran
i)
Egosentrisme
dan Sosialisme
3.4
Tahap
operasi formal:
umur 11-12 ke atas.
(Ciri
pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis)
Tahap operasi formal (formal
operations) merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut
Piaget. Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir
dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis,
dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu. Cara
berpikir yang abstrak mulai dimengerti. Sifat pokok tahap operasi formal adalah
pemikiran deduktif hipotesis, induktif sintifik, dan abstrak reflektif.
C.
Teori
Kognitif Dienes
1. Konsep
Matematika
· Konsep
murni matematis
berhubungan dengan klasifikasi bilangan-bilangan dan hubungan-hubungan antar bilangan, dan
sepenuhnya bebas dari cara bagaimana bilangan-bilangan itu disajikan.
· Konsep
notasi adalah sifat-sifat bilangan yang merupakan akibat langsung dari cara
penyajian bilangan. Fakta bahwa dalam basis sepuluh, 275 berarti 2 ratusan
ditambah 7 puluhan ditambah 5 satuan merupakan akibat dari notasi nilai tempat
dalam menyajikan bilangan-bilangan yang didasarkan pada sistem pangkat dari
sepuluh.
· Konsep
terapan adalah penerapan dari konsep matematika murni dan notasi untuk
penyelesaian masalah dalam matematika dan dalam bidang-bidang yang berhubungan.
Panjang, luas dan volume adalah konsep matematika terapan. Konsep-konsep
terapan hendaknya diberikan kepada siswa setelah mereka mempelajari konsep
matematika murni dan notasi sebagai prasyarat. Konsep-konsep murni hendaknya
dipelajari oleh siswa sebelum mempelajari konsep notasi, jika sebaliknya para
siswa hanya akan menghafal pola-pola bagaimana memanipulasi simbol-simbol tanpa
pemahaman konsep matematika murni yang mendasarinya.
2. Tahap- Tahap
Dalam Belajar Konsep Matematika
•
Permainan Bebas (Free Play)
•
Permainan yang menggunakan aturan (Games)
•
Permainan Kesamaan Sifat (Searching for
Communalities)
•
Permainan Representasi (Representation)
•
Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization)
•
Permainan
dengan Formalisasi (Formalization)
Selanjutnya adalah memotivasi anak didik untuk
mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang
sederhana, grafik, peta dan akhirnya
memadukan simbolo-simbol dengan konsep tersebut. Langkah-langkah ini merupakan
suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam
proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. Proses
pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara
aktif dari pada hanya sekedar menghapal.
D.
Implikasi
Teori Kognitif Jean Peaget terhadap pendidikan
Beberapa implementasi yang harus diketahui dan
diterapkan adalah sebagai berikut:
-
Memfokuskan
pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Guru
harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban
tersebut.
-
Pengenalan
dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri
dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Penyajian materi jadi
(ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan
untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
-
Tidak
menekankan pada praktek - praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak
seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
-
Penerimaan
terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan.
E.
Implikasi
teori Kognitif Dienes terhadap pendidikan
Model mengajar matematika
dari Dienes hendaknya diperlakukan sebagai pedoman, dan bukan sekumpulan aturan
yang harus diikuti secara ketat. Konsep perkalian bilangan bulat negatif dan hampir
semua siswa belajar menambah, mengurang, mengalikan dan membagi bilangan-bilangan
asli, dan menambah dan mengurang bilangan-bilangan bulat sebelum belajar
mengalikan bilangan bulat, kita berasumsi bahwa konsep-konsep dan
keterampilan-keterampilan itu telah dikuasai oleh para siswa.
Guru mungkin juga
mendiskusikan penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat dan sifat
pertukaran dan pengelompokan penjumlahan. Guru bisa juga mengganti permainan
bebas dengan tinjauan informal. Sebagai contoh, kartu hitam 2 dan 4 dan kartu
merah 7 dan 5 dapat digunakan untuk membuat 2 x 4 + (-7 x -5) = 43, jika aturan
yang benar bahwa hasil kali dua bilangan bulat negatif adalah suatu bilangan
bulat positif telah dirumuskan. Jika tidak, maka bilangan-bilangan negatif
tidak akan menolong dalam mengorganisasi seorang pemenang.
Permasalahan :
Siswa yang memiliki minat
belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari
mata pelajaran tertentu, sehingga siswa dapat mempelajari hasil pembelajaran
yang optimal. Jika siswa yang tidak memiliki minat belajar matematika namun dipaksakan
sehingga pelajaran yang disampaikan
pun tidak dapat dipahami oleh siswa, Bagaimana peran guru agar dapat
mengoptimalkan minat belajar siswa agar ranah kognitif pun bisa optimal?


menurut saya cara yang tepat adalah melalui pembiasaan pembelajaran bermakna artinya dalam setiap pembelajaran yang diberikan guru harus menghubungkan materi pelajaran dengan kegunaan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa memiliki antusias yang berbeda ketika pelajarannya berguna menurutnya, oleh karena lama-kelamaan minat akan tumbuh untuk pelajaran tersebut khususnya pelajaran matematika
BalasHapusmenurut saya minat belajar siswa termasuk dalam psikologi pendidikan, jadi untuk mengatasinya guru harus memiliki ilmu pedagogik ilmu psikologi untuk mengetahui karakteristik siswa, guru juga harus belajar bagaimana membangkitkan minat belajar siswa terhadap pembelajran matematika juga dengan menerapkan metode mengajar yang bermakna dengan melibatkan siswa secara aktif
BalasHapusMenurut saya, guru harus memberi contoh konkrit dalam pembelajaran matematika dan mengaitkan dalam kenyataan kehidupan sehari hari sehingga pembelajaran lebih bermakna dan siswa merasa matematika itu penting dan termotivasi, sehingga siswa mampu mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan mksimal
BalasHapusMenurut saya jangan jadikan pelajaran sebagai rutinitas sehingga menyebabkan siswa merasa bosan terhadap proses pembelajaran. Untuk menghindari siswa merasa bosan terhadap pelajaran buatlah pembelajaran yang menyenangkan dengan cara membuat games, media dan pembelajaran yang dikaitkan dengan konteks yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan
BalasHapusmenurut saya cara yang tepat adalah melalui pembiasaan pembelajaran bermakna artinya dalam setiap pembelajaran yang diberikan guru harus menghubungkan materi pelajaran dengan kegunaan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari
BalasHapusmenurut saya cara yang tepat adalah melalui pembiasaan pembelajaran bermakna artinya dalam setiap pembelajaran yang diberikan guru harus menghubungkan materi pelajaran dengan kegunaan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari
BalasHapuscara guru agar membuat siswa nya tertarik dalam matematika, guru harus kreatif dalam pembelajaran. selanjutnya guru harus memberikan penjelasan yang dekat dengan kehidupan siswa, sehingga siswa merasa bahwa pelajaran matematika sangat penting
BalasHapusmenurut saya agar siswa minat dalam pembelajaran, guru harus membuat pembelajaran itu lebih menarik dan bermakna
BalasHapusSaya setuju dengna pendapat sebelum2nya dengan menghubungkan materi dengan materi sebelumnya dan menghubungkan kedalam bentuk sehari-hari membuat siswa belajar lebih menyenangkan
BalasHapusguru perlu memotivasi siswa,, dan membuat siswa senang dalam belajar , sehingga siswa memiliki minan dan motivasi dalam belajar
BalasHapusYaitu dengan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari hari dan mengaplikasikan ke kongkrit ke nyata.
BalasHapusmenurut saya cara yang tepat adalah dengan cara sering guru harus sering memberikan contoh persoalan dengan menghubungkan materi pelajaran dengan kegunaan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari
BalasHapuscaranya adalah dengan memberikan motivasi yang lebih kepada siswa. dan menggunakan media pembelajaran yang menarik dan mampu menimblkan semangat belajar yang tinggi kepada siswa.
BalasHapus